Jumat, 17 Agustus 2012

Sekilas Tentang Serat Wedhatama

Serat Wédhatama ("tulisan mengenai ajaran utama") adalah sebuah karya sastra Jawa Baru yang bisa digolongkan sebagai karya moralistis-didaktis yang sedikit dipengaruhi Islam. Karya ini secara formal dinyatakan ditulis oleh KGPAA Mangkunegara IV. Walaupun demikian didapat indikasi bahwa penulisnya bukanlah satu orang. Menurut Pigeaud beliau bekerjasama dengan Ranggawarsita dan penulis lainnya. (Th. Pigeaud. Literature of Java. Vol. I. 1967:110).

Serat Wedhatama terdiri dari 100 pupuh atau bait tembang macapat, yang dibagi dalam lima tembang, yaitu: Pangkur (14 pupuh, I - XIV), Sinom (18 pupuh, XV - XXXII), Pocung (15 pupuh, XXXIII - XLVII), Gambuh (35 pupuh, XLVIII - LXXXII) dan Kinanthi (18 pupuh, LXXXIII - C). Isinya merupakan falsafah kehidupan, seperti hidup bertenggang rasa, bagaimana menganut agama secara bijak, menjadi manusia seutuhnya, dan menjadi orang berwatak ksatria.

Terdapat beberapa bagian yang dapat dianggap sebagai kritik terhadap konsep pengajaran Islam yang ortodoks, yang mencerminkan pergulatan budaya Jawa dengan gerakan pemurnian Islam (gerakan Wahabi) yang marak pada masa itu.

Teks ini masih populer hingga sekarang. Kitab terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia serta tafsirnya telah diterbitkan, termasuk terjemahannya ke dalam Bahasa Inggris. Dalam komposisinya, Hong Wilaheng Sekaring Bawono (1981), penyanyi Gombloh mengutip sebagian dua sajak yang populer dari Wedhatama (Pangkur, bait I dan XII).

Serat Wedhatama dianggap sebagai salah satu puncak estetika sastra Jawa abad ke-19 dan memiliki karakter mistik yang kuat. Bentuknya adalah tembang, yang biasa dipakai pada masa itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar